Hubungan Indonesia dan Australia kembali diuji. Muncul kabar bahwa telepon Presiden Susilo BambangYudhoyono dan para menterinya, termasuk Ibu Negara Ani Yudhoyono disadap intelijen Australia.
Pemerintah Australia tidak membenarkan maupun tidak membantah soal skandal penyadapan yang diungkap dua media massa, The Guardian dan Sydney Morning Herald, dari hasil bocoran Edward Snowden itu. Snowden adalah mantan kontraktor badan intelijen AS (NSA) yang tengah menjadi buronan Washington dan kini menetap di Rusia.
Pemerintah RI pun langsung mengambil langkah tegas. Sebagai reaksi atas kabar penyadapan telepon itu, Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema, dipanggil pulang untuk "konsultasi" dengan pemerintah pusat selama waktu yang tidak ditentukan.
Pemerintah Australia tidak membenarkan maupun tidak membantah soal skandal penyadapan yang diungkap dua media massa, The Guardian dan Sydney Morning Herald, dari hasil bocoran Edward Snowden itu. Snowden adalah mantan kontraktor badan intelijen AS (NSA) yang tengah menjadi buronan Washington dan kini menetap di Rusia.
Pemerintah RI pun langsung mengambil langkah tegas. Sebagai reaksi atas kabar penyadapan telepon itu, Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema, dipanggil pulang untuk "konsultasi" dengan pemerintah pusat selama waktu yang tidak ditentukan.
Selama ini, hubungan RI dan Australia tidak hanya terjalin secara politik. Dalam hubungan perdagangan, kedua negara juga cukup aktif, meski per September 2013, Indonesia mencatat defisit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas Indonesia ke Australia pada September mencapai US$236,4 juta atau sekitar Rp2,74 triliun. Angka ini meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat US$201,5 juta atau setara Rp2,34 triliun.
Sementara itu, selama periode Januari-September 2013, ekspor nonmigas RI ke negeri Kanguru itu sebesar US$2.026,5 juta atau sekitar Rp23,57 triliun. Namun, nilai ekspor itu turun dibanding periode sama 2012 yang tercatat US$2.455,9 juta atau setara Rp28,5 triliun.
Ekspor ke Australia selama Januari-September 2013 itu mengontribusi sekitar 1,84 persen dari total ekspor nonmigas RI ke sejumlah negara.
Meski demikian, bila dibanding impor nonmigas dari Australia, nilai ekspor RI masih kalah. Pada Agustus 2013, nilai impor nonmigas dari negeri Kanguru mencapai US$315,3 juta atau sekitar Rp3,66 triliun.
Nilai impor itu pun kembali meningkat pada September yang tercatat US$373,4 juta atau setara Rp4,33 triliun. Sementara itu, selama periode Januari-September 2012, nilai impor nonmigas sebesar US$3.753,7 juta, sebelum turun menjadi US$3.521,9 juta pada Januari-September 2013.
Kontribusi dari Australia itu mencapai 3,3 persen dari total impor nonmigas RI dari sejumlah negara di dunia. Nilai impor Januari-September 2013 itu setara Rp40,8 triliun.
Berdasarkan data ekspor dan impor nonmigas kedua negara itu, Indonesia masih mencatat defisit Rp17,3 triliun selama periode Januari-September 2013. Sementara itu, untuk September 2013, perdagangan RI dan Australia juga defisit bagi Indonesia sebesar Rp1,59 triliun. (eh)
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas Indonesia ke Australia pada September mencapai US$236,4 juta atau sekitar Rp2,74 triliun. Angka ini meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat US$201,5 juta atau setara Rp2,34 triliun.
Sementara itu, selama periode Januari-September 2013, ekspor nonmigas RI ke negeri Kanguru itu sebesar US$2.026,5 juta atau sekitar Rp23,57 triliun. Namun, nilai ekspor itu turun dibanding periode sama 2012 yang tercatat US$2.455,9 juta atau setara Rp28,5 triliun.
Ekspor ke Australia selama Januari-September 2013 itu mengontribusi sekitar 1,84 persen dari total ekspor nonmigas RI ke sejumlah negara.
Meski demikian, bila dibanding impor nonmigas dari Australia, nilai ekspor RI masih kalah. Pada Agustus 2013, nilai impor nonmigas dari negeri Kanguru mencapai US$315,3 juta atau sekitar Rp3,66 triliun.
Nilai impor itu pun kembali meningkat pada September yang tercatat US$373,4 juta atau setara Rp4,33 triliun. Sementara itu, selama periode Januari-September 2012, nilai impor nonmigas sebesar US$3.753,7 juta, sebelum turun menjadi US$3.521,9 juta pada Januari-September 2013.
Kontribusi dari Australia itu mencapai 3,3 persen dari total impor nonmigas RI dari sejumlah negara di dunia. Nilai impor Januari-September 2013 itu setara Rp40,8 triliun.
Berdasarkan data ekspor dan impor nonmigas kedua negara itu, Indonesia masih mencatat defisit Rp17,3 triliun selama periode Januari-September 2013. Sementara itu, untuk September 2013, perdagangan RI dan Australia juga defisit bagi Indonesia sebesar Rp1,59 triliun. (eh)





Post a Comment