Banyak yang tahu nama Dieng, bahkan turis mancanegara pun tidak sungkan memasukkan Dieng ke dalam agenda perjalanannya. Dieng memang mempesona, selain pemandangan alamnya yang luar biasa indah, Dieng juga punya banyak kawah/danau unik, sumber-sumber mata air, kompleks candi Hindu dan kebudayaan yg tidak ada duanya. Sebut saja anak berambut gimbal yang sudah pernah dibahas di artikel sebelum ini. Untuk itu, kali Triphemat ingin membahas lagi keunikan lain yang ada di Dieng.
Sejatinya Dieng adalah sebuah daerah kaldera yang dikelilingi pegununungan di sekitarnya. Kaldera terbentuk karena runtuhnya permukaan gunung berapi disebabkan kekosongan kantung magma. Karena itulah di sekitar Dieng sekarang banyak terdapat kawah-kawah karena memang dulunya Dieng pernah menjadi gunung berapi.
Diantara kawah-kawah tersebut ada yang berpotensi mengeluarkan gas beracun CO2, gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga menjadi sangat berbahaya. Kawah-kawah yg berbahaya tersebut antara lain Kawah Sinila dan Kawah Timbang. Pada tahun 1979, Kawah Sinila pernah meletus, dan menyebabkan gas CO2 konsentrasi tinggi terlepas dari kawah Timbang lalu menyebar ke daerah pemukiman dan menewaskan 149 orang, hampir seluruh penduduk desa. Tetapi tenang, kedua kawah ini jauh kok dari pusat wisata Dieng yang lain.
Beberapa kecantikan alam Dieng yang lain sudah dikelola oleh pemerintahnya. Dijamin keamanannya dan diberikan kemudahan akses untuk menuju kesana, seperti jalanan yang sudah diaspal dan rambu-rambu yang cukup jelas. Dan berikut beberapa objek wisata yang menarik untuk dikunjungi :
Kawah Sikidang
Sikidang dalam bahasa setempat berarti si kijang. Maksudnya, kawah ini suka berpindah-pindah tempat sesuka hati, seperti kijang. Dari kawah ini keluar uap air bercampur belerang. Dan di dalam kawah kita bisa melihat lumpur yang menggelegak. Mirip lumpur lapindo, tetapi bedanya lumpur di Kawah Sikidang tidak meluap kemana-mana. Suhu lumpur berkisar 85 derajat celcius. Jika kita memasukkan sebutir telur mentah, maka dalam waktu 10 menit saja telur itu akan langsung matang. Di sekeliling kawah terdapat lubang-lubang kecil tempat uap panas keluar, karena itu, harus hati-hati melangkah.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Telaga Warna adalah danau belerang yang berwarna biru kehijauan, dan Telaga Pengilon berair tawar berwarna kecoklatan. Telaga Warna dan Telaga Pengilon terletak persis bersebelahan. Bahkan sebenarnya ada bagian yang terhubung dan hanya dibatasi oleh ilalang-ilalang, namun ajaibnya kedua airnya tidak bercampur. Di area kedua telaga ini terdapat gua-gua yang sering dijadikan tempat olah spiritual, antara lain Gua Semar, Gua Jaran, dan Gua Sumur. Keindahan kedua telaga ini akan semakin terlihat jika kita menatapnya dari atas bukit di sekelilingnya.
Gunung Sikunir dan Telaga Cebong
Gunung Sikunir adalah tempat yang cocok untuk melihat Sunrise emas di Dieng. Dari tempat parkir yang terletak bersebelahan dengan Telaga Cebong, kita harus berjalan kaki lagi sekitar setengah jam dengan trek landai sampai curam. Tapi tenang, jalur treknya sudah dibuat untuk memudahkan pengunjung yang ingin melintas kok. Pada trek-trek curam sudah dibuatkan tangga-tangga yang terbuat dari batu. Usai menikmati sunrise, saatnya nge-teh di pinggir Telaga Cebong. Dinamakan Telaga Cebong ya karena bentuknya yang mirip kecebong.
Mata Air Sungai Serayu
Atau disebut juga Tuk Bima Lukar ini adalah sumber pertama dari aliran panjang Sungai Serayu. Oleh masyarakat setempat sering digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Konon katanya, air ini bisa membuat awet muda lho. Jadi jika berkesempatan mengunjungi Dieng, jangan lupa untuk menyempatkan diri membasuh wajah di mata air ini, siapa tahu bisa langsung kembali muda lagi.
Sumur Jalatunda
Jalatunda berasal dari dua kata, Jala = kesuksesan, Tunda = tertunda. Jadi, Jalatunda adalah kesuksesan yang tertunda. Ada mitos yang mengatakan, jika kita berhasil melempar batu melintasi sumur ini maka harapan kita bisa terkabul. Di luar mitos, Sumur ini adalah sebuah mata air tawar yang dikelilingi tebing tinggi melingkar, sehingga membentuk seperti sebuah sumur raksasa yang sangat eksotis.
Museum Kailasa
Jika ingin mengetahui peninggalan sejarah apa saja yang ada di Dieng, datanglah ke Museum ini. Di Museum ini terdapat informasi tentang alam Dieng, artefak-artefak dan sejarah singkat tentang kehidupan masyarakat Dieng. Letaknya tidak jauh dari pusat keramaian Dieng.
Kompleks Candi Arjuna
Kompleks Candi Arjuna terdiri dari beberapa Candi peninggalan Hindu, antara lain Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembrada, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Candi Dwarawati, dan Gangsiran Aswatama. Di kompleks percandian ini juga terdapat bekas rumah peristirahatan mantan presiden Soeharto, yang sampai saat ini masih dilestarikan. Jika datang di waktu yang tepat, saat kabut turun ke permukaan, kita akan mendapati pemandangan menakjubkan di sekeliling kompleks Candi Arjuna. Benar-benar seperti Candi di atas awan.
Dieng Plateu Theatre
Adalah sebuah teater yang memutarkan film dokumenter tentang sejarah singkat Dieng dan masyarakatnya. Untuk kamu yang belum tahu apa-apa tentang Dieng, sebaiknya berkunjung ke teater ini dulu sebelum memutuskan berkeliling kemana-mana.
Dibalik semua keindahan dan keanekaragaman budayanya, Dieng menyimpan sebuah nuansa mistis di sekitarnya. Mungkin karena penduduknya masih menganut paham Kejawen. Apapun, memang sudah seharusnya kan kita lebih respect dengan adat di tempat yang kita tuju. Larangan-larangan seperti tidak boleh meludah dan membuang sampah sembarangan memang sudah lumrah, karena memang seharusnya kita tidak boleh melakukannya, demi menjaga kebersihan alamnya. Oya, walaupun punya peninggalan Candi Hindu dan paham Kejawen, mayoritas penduduk Dieng Muslim lho, dan hampir semuanya taat beribadah.





Post a Comment