Kisah di Telaga Ujung Desa
Written By Unknown on Friday, 14 March 2014 | 21:47
Pak Sajarwan sedang duduk santai menikmati keasrian taman bunganya di halaman depan rumahnya. Tidak lama berselang, datanglah Bayu anak bungsunya dengan raut muka yang kesal dan tidak bahagia. Pak Sajarwan segera meminta Bayu duduk dan minum segelas air putih untuk menenangkannya.
Singkat cerita Bayu menumpahkan segala keluh kesahnya terhadap bapaknya yang sedari tadi mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu membuat teh hangat tanpa gula, dan meminta anaknya untuk meminumnya. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya.”, ujar Pak Sajarwan.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab Bayu, dengan muka menahan pahit teh tersebut.
Pak Sajarwan, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak anaknya, untuk berjalan ke tepi telaga dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Sajarwan, lalu kembali menaburkan segenggam bubuk teh, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat Bayu itu selesai mereguk air itu, Pak Sajarwan bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar,” sahut Bayu. “Apakah kamu merasakan teh pahit di dalam air itu?”, tanya Pak Sajarwan lagi. “Tidak”, jawab Bayu.
Dengan bijak, Pak Sajarwan menepuk-nepuk punggungnya. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Bayu, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam bubuk teh tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Sajarwan lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Sajarwan, kembali menyimpan “segenggam bubuk teh”, untuk anaknya yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa. (aanardian/blog.kotajogja.com)
- See more at: http://blog.kotajogja.com/serba-serbi/lifestyle/sebuah-kisah-di-telaga-ujung-desa/#sthash.XHGYazT4.dpuf
Labels:
Berita






Post a Comment